Oleh Aminuddin Siregar
Masa awal reformasi yang nampak sangat positif untuk melakukan berbagai perubahan, telah memberi harapan baru bagi terwujudnya kepemerintahan yang baik dan benar. Semangat yang dibuahkan oleh reformasi itu, membuat antuasiasme tokoh-tokoh muda untuk tampil sebagai pemimpim nasional. Akan tetapi, untuk bisa tampil bukanlah perkara mudah. Baik secara politik maupun cultural, social dan psikologis.
Benar, bahwa dinamika kehidupan politik kita sudah sangat demokratis, bila dibandingkan masa sebelum reformasi. Namun, secara politik tetap saja seseorang yang ingin tampil terganjal oleh mekaninsme pencalonan melalui partai politik yang ada. Bukan saja oleh prosedur dan tingginya cost politic yang mesti ditanggung oleh seorang calon, melainkan lantaran kendaraan politik yang tidak selalu siap menampung calon sekalipun punya gagasan cerdas dan visi yang cemerlang. Akan semakin runyam bila tidak ada dukungan finansial yang memadai.
Sementara secara kultural juga boleh dikatakan masih saja kurang mendukung lantaran paradigma budaya politik kita belum bergeser dari pola paternalis dan model kepolitikan yang figuratif. Padahal dalam setiap sistem politik yang ada fungsi perekrutan politik mesti dimasukkan dalam budaya politik yang lebih luas cakupannya. Alhasil tokoh muda yang tampil akan kewalahan, lantaran sistem perekrutan politik yang dianggap semu dan acapkali terabaikan, sehingga tidak nampak kader potensial untuk dimajukan.
Kini perpolitikan kita, memang sangat menjanjikan bagi siapa pun saja untuk tampil sebagai kandidat. Apakah itu sebagai kandidat calon Gubernur, Bupati atau Walikota, termasuk untuk menjadi anggota dewan baik pusat maupun daerah. Hanya saja, para kandidat tidak bisa memainkan peranan baik sebagai aktivis maupun sebagai pemimpin lantaran tidak direkrut dan disosialisasikan sejak awal. Para kader seakan-akan berada di luar wadah politik, atau berada dipinggaran lembaga politik yang ada seperti partai politik, organisasi massa dan semacamnya.
Pergantian kepemimpinan nasional, yang dinilai sangat demokratis itu, misalnya, semakin membuat publik percaya akan terjadi kejutan-kejutan besar dalam menciptakan perubahan di semua bidang kehidupan. Sehingga banyak orang bertanya-tanya, apakah niatan presiden melakukan perombakan eselon I di jajaran departemen merupakan bagian dari reformasi birokrasi ? Sementara itu, adanya upaya ke arah regenerasi kepemimpinan ditingkat lokal, diharapkan akan menampilkan birokrasi yang berish dan berwibawa.
Tokoh Muda
Niatan untuk menampilkan tokoh-tokoh muda menjadi pemimpin nasional, muncul dari kalangan pro reformasi. Sementara kalangan status quo, tidak memberi reaksi, atau berkomentar, apakah sudah saatnya untuk tampil sebagai pemimpin nasional. Kedua kalangan ini tentu punya alasan sendiri-sendiri, misalnya mengapa mesti tokoh muda dan kenapa kalau generasi sebelumnya.
Kesadaran baru tiba-tiba saja muncul, ketika kandidat calon Presiden Amerika Serikan Barack Obama melangkah ke Gedung Putih. Obama memang tergolong muda dalam dunia perpolitikan Amerika disbanding senior-seniornya baik dalam partai maupun dalam jajaran lawan-lawan politiknya. Dorongan dan himbauan moral muncul tatkala bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional.
Tentu saja hal ini sangat positif bagi kaum muda. Hanya saja secara politik sebenarnya kita minus kader muda ketika kita dihadapkan pada usaha menampilkan kaum muda yang secara politik juga cerdas dan punya keberanian. Walaupun di antaranya ada satu dua. Tetapi ada saja yang beranggapan bahwa yang benar-benar kader politik dan berasal dari partai politik sangat langka.
Tokoh-tokoh muda yang sekarang muncul di pentas perpolitikan kita, baik pada tingkat nasional maupun local, merupakan suatu harapan. Mereka yang punya keberanian untuk tampil juga karena alasan bahwa mereka itu kebanyakan adalah public figure yang sudah sangat akrab dimata masyarakat. Ini memang satu modal yang tidak ada salahnya untuk dimanfaatkan.
Lalu harapan banyak orang yang tetap menggantung di pundak pergulatan politik tetap membayang-bayangi kemuraman akan wujud nyata pembelaan terhadap sekelompok besar masyarakat miskin. Masyarakat miskin ini senantiasa ada perbaikan dan ikut merasakan kemajuan itu baik dari sisi pendidikan, ekonomi dan kesehatan, termasuk di dalamnya kualitas kesejahteraan rakyat.
Apa pun alasannya banyak orang berharap agar tokoh muda sudah saatnya untuk memperlihatkan kualitas mutu mampu politiknya. Menampilkan kualitas mutu mampu kepiawaiannya merangkul masyarakat untuk secara bersama meningkatkan derajad kesehatan, derajat kesejahteraan, derajat pendidikan masyarakat Indonesia, dan derajat melek politik rakyat yang dari waktu ke waktu mesti ditingkatkan.
Kalau ditanya kenapa sejauh itu, lantaran hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab politik dan kepercayaan yang diberikan rakyat kepada siapa saja yang akan menjadi pemimpin masa depan dan yang menjadi wakil mereka yang sungguh-sungguh dapat menyuarakan aspirasi mereka, seperti yang selama ini diimpikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Langkah Obama memang layak ditiru dan dipelajari oleh tokoh muda Indonesia.
Vincent Liong Berkata:
on September 5, 2008 at 2:58 pm
Dalam budaya Jawa, pemimpin itu adalah karena suratan nasib, dan didukung oleh orang-orang yang ingin dipimpin oleh dirinya. Seorang pemimpin dari dalam lubuk hatinya tidak pernah ingin dan merasa layak untuk menjadi pemimpin. Bahkan untuk menghindari bahwa ia diharuskan memimpin, ia akan menceritakan segala kekurangannya, keterbatasannya, dengan harapan tidak dituntut untuk memimpin. Bilamana masyarakat tetap berkehendak agar dia yang memimpin, maka ia akan meminta bantuan dari rakyat agar dirinya dapat memimpin dengan benar.
andreas Berkata:
on September 8, 2008 at 6:48 pm
Pemimpin seperti apa?
Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy
Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan
Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.
Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.
Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.
Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.
Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.
Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.
Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.
Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.
Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.
Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.
Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.
Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.
salam hangat
readingcomunity Berkata:
on Oktober 5, 2008 at 1:10 am
Terima kasih Mas Andreas, komentar Anda sangat bermanfaat bagi setiap anggota komunitas haus buku. Teruslah memberi komentar, dan kami dari segenap anggota mengajak Anda untuk gabung bersama. Trim’s