Arsip untukSeptember 20, 2008

Membangun Kedaulatan Rakyat

 

Oleh M. Sarwani, wartawan Bisnis Indonesia 

Sumber: Bisnis Indonesia, Minggu, 03 Agustus 2008 

Perjuangan Adi Sasono membela wong cilik tidak pernah surut. Lewat buku terbarunya Rakyat Bangkit Bangun Martabat, dia mengingatkan tentang perlunya perubahan sosial untuk mencapai kedaulatan rakyat.

“Kini, yang diperlukan adalah perubahan sosial. Tentu saja, tidak akan ada perubahan sosial tanpa tindakan sosial. Sementara tindakan sosial tidak akan terwujud tanpa penyadaran. Penyadaran sosial inilah yang sesungguhnya menjadi tugas besar para pemimpin dan kaum terpelajar,” kata Adi Sasono dalam pengantarnya di buku tersebut.

Ajakan penulis buku tersebut mengingatkan kita akan sepak terjangnya pada masa lalu. Apa pun posisi Adi Sasono, dia ingin membangun kedaulatan rakyat melalui ekonomi kerakyatan, termasuk saat dia menjadi menteri koperasi pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie. … continue reading this entry.

Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy

Pemimpin seperti apa?

Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan

Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya. … continue reading this entry.

Pandu “Winnetou” Ganesa:Pembuktian Tanggung Jawab

Senin, 7 Juli 2008 | 02:16 WIB

ANUNG WENDYARTAKA

Bagi pencinta buku petualangan karya penulis legendaris Jerman, Karl May, di Indonesia saat ini, sebagian besar pasti mengenal sosok pria tinggi besar, berbadan tegap, dan sekilas mirip orang Indian, yaitu Pandu Ganesa atau dalam surat elektronik ia sering memakai nama Gono.

Tak diragukan lagi, munculnya kembali Karl May di negeri ini, seperti kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam buku Menjelajah Negeri Karl May, tak terlepas dari usaha dan sepak terjang tak kenal lelah dari pengusaha kelahiran Kota Kediri 55 tahun silam ini.

Karya-karya Karl May yang sudah banyak dikenal sejak zaman Hindia Belanda, dan edisi bahasa Indonesianya pernah digandrungi masyarakat Indonesia sekitar tahun 1950 hingga tahun 1970-an, beberapa tahun lalu sempat menghilang. ”Dari riset saya di berbagai media di sini, selama tahun 1980 hingga tahun 2000-an memang hampir enggak ada orang yang pernah menyentuh Karl May. Satu-satunya orang Indonesia yang menyentuh hanya Seno (Gumira Ajidarma) tok. Itu tahun 1992,” ungkap Pandu Ganesa.

Menurut Pandu, selain artikel Seno di harian ini yang ditulis dalam rangka memperingati 150 tahun kelahiran Karl May atau Carl Friedrich May tahun 1992 tersebut, publisitas Karl May lain yang ada dalam kurun waktu lebih kurang 20 tahun sejak tahun 1980-an hanyalah sebuah artikel ringan di majalah bulanan Intisari. ”Satu-satunya artikel serius yang ada hanyalah tulisan Seno di Kompas,” kata Pandu menambahkan. … continue reading this entry.