Arsip untukBook Review

Membangun Kedaulatan Rakyat

 

Oleh M. Sarwani, wartawan Bisnis Indonesia 

Sumber: Bisnis Indonesia, Minggu, 03 Agustus 2008 

Perjuangan Adi Sasono membela wong cilik tidak pernah surut. Lewat buku terbarunya Rakyat Bangkit Bangun Martabat, dia mengingatkan tentang perlunya perubahan sosial untuk mencapai kedaulatan rakyat.

“Kini, yang diperlukan adalah perubahan sosial. Tentu saja, tidak akan ada perubahan sosial tanpa tindakan sosial. Sementara tindakan sosial tidak akan terwujud tanpa penyadaran. Penyadaran sosial inilah yang sesungguhnya menjadi tugas besar para pemimpin dan kaum terpelajar,” kata Adi Sasono dalam pengantarnya di buku tersebut.

Ajakan penulis buku tersebut mengingatkan kita akan sepak terjangnya pada masa lalu. Apa pun posisi Adi Sasono, dia ingin membangun kedaulatan rakyat melalui ekonomi kerakyatan, termasuk saat dia menjadi menteri koperasi pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie. … continue reading this entry.

Tehnik Kepemimpinan Jawa dalam Pribadi Barack Obama

Ditulis oleh: Vincent Liong dan Anton Widjojo
Tempat, Hari & Tanggal: Jakarta, Kamis, 4 September 2008
Dalam budaya Jawa, pemimpin itu adalah karena suratan nasib, dan didukung oleh orang-orang yang ingin dipimpin oleh dirinya. Seorang pemimpin dari dalam lubuk hatinya tidak pernah ingin dan merasa layak untuk menjadi pemimpin. Bahkan untuk menghindari bahwa ia diharuskan memimpin, ia akan menceritakan segala kekurangannya, keterbatasannya, dengan harapan tidak dituntut untuk memimpin. Bilamana masyarakat tetap berkehendak agar dia yang memimpin, maka ia akan meminta bantuan dari rakyat agar dirinya dapat memimpin dengan benar.

Dalam kasus calon presiden Amerika yang bernama Barack Obama, yang pernah mengalami sebagian masa kecil di Jakarta dan memiliki ayah tiri yang adalah orang Indonesia; tampak sekali pengaruh pola kepemimpinan budaya Jawa. … continue reading this entry.

Books For the Fall: Obama, Woodward and Moore

Sumber : Yahoo! News, 18 Agustus 2008 By HILLEL ITALIE, AP National Writer Mon Aug 18, 11:05 PM ET

NEW YORK – In case you’re wondering which books to read this fall, Michael Moore has a suggestion: Don’t read any.

Not the new fiction by Toni Morrison or Philip Roth or Stephen King. Not that policy book by Sen. Barack Obama, whom Moore is supporting for president; or Bob Woodward’s latest on the Bush administration; or Thomas Friedman’s manifesto on the environment.

Not even a little paperback meant as a handbook to the political campaigns. It’s called “Mike’s Election Guide 2008″ and it’s written by a certain Academy Award-winning filmmaker and well known agitator named Michael Moore.

“There really is no time for any frivolity. People are already working two jobs to put gas in the tank, so they can drive from the first job to the second job. People need to spend as much of their free time as possible for candidates,” says Moore, who believes that electing progressives will improve the economy, and in the long run, enable people to read more.

“I would rather you go and work for a local candidate than read my book.”

A multibillion-dollar industry has been built around such “frivolity” and if Moore is looking for an argument — as he often is — he can begin with the team at Grand Central Publishing that’s releasing “Mike’s Election … continue reading this entry.

Hemingway confidante brings author’s Havana to life

Sumber : Yahoo! News, 27 Agustus 2008 By Anna MacSwan Wed Aug 27, 3:05 PM ET

EDINBURGH (Reuters) – She was a teenager from Dublin looking to make her name as a journalist when American author Ernest Hemingway entered her life in 1959.

The young Irishwoman became his secretary and traveling companion, and after his death married his son.

Decades later, Valerie Hemingway brought her memories of daiquiris in tropical Cuba and bullfights in Spain to rainy Edinburgh, Scotland’s capital.

She teamed up with Scottish director Toby Gough and a Cuban music and dance group to recreate the Havana of the 1950s in a stage production called “Hemingway’s Havana” as part of last week’s Fringe Festival.

“Hemingway loved Cuba because it was a place where he could be anonymous,” she said in an interview with Reuters. … continue reading this entry.

Sean Connery’s memoirs no “kiss and tell”

Sumber : Yahoo! News, Posting, 01 September 2008

By Ian MacKenzie Wed Aug 27, 3:08 PM ET

EDINBURGH (Reuters) – If you are looking for kiss-and-tell stories about the Bond girls or movie town gossip, Sean Connery’s memoirs are not for you.

More of a coffee table book, the renowned Scottish actor’s autobiography, “Being A Scot,” is a heavyweight tome written in collaboration with Scottish film maker Murray Grigor.

The book, launched on Connery’s 78th birthday this week at the Edinburgh International Book Festival, relates his 1930s childhood in the poor Fountainbridge area of Edinburgh.

He details his break into acting by way of milk delivery boy, the Royal Navy (invalided out with ulcers), art college model, bodybuilder, and — almost — professional footballer. … continue reading this entry.

Ketegaran Wanita Palestina

Sumber : Harian Republik, 2008-08-31 14:44:00

Inilah novel yang betul-betul mengangkat realitas kehidupan para pengungsi Palestina

Apakah yang kita bayangkan tentang para wanita Palestina? Palestina adalah sebuah negeri yang selama 60 tahun dilanda peperangan tiada henti melawan pendudukan Zionis Israel yang didukung Barat, khususnya Amerika.

Satu hal yang pasti, negeri yang semula permai dan makmur itu telah melahirkan pahlawan demi pahlawan yang tak pernah kenal menyerah untuk membebaskan Masjid Aqsha dari penjajahan Israel.

Dan, para pahlawan itu, tidak hanya dari kalangan kaum prianya, melainkan juga para wanitanya. Kaum wanita Palestina tidak hanya melahirkan para pejuang (mujahid) yang berani menjemput maut dengan senyuman, akan tetapi mereka pun terlibat langsung dalam kancah peperangan melawan tentara dan penduduk Israel yang didatangkan dari berbagai Negara. … continue reading this entry.

Lepas dari Sergapan Klise

Sumber : Harian Kompas, Minggu, 31 Agustus 2008 | 03:00 WIB

OLEH ANWAR HOLID

Steven Taylor Goldberry, penulis ”The Writer’s Book of Wisdom”, menyatakan: sebuah buku yang punya kerangka cerita sangat menarik bisa sukses meski ia ditulis dengan buruk, plotnya jelek, dan karakternya mudah ditertawakan. Ujung-ujungnya, kata dia, isi tulisan lebih penting dibandingkan keterampilan.

Kadang-kadang subyek sebuah cerita bisa saja klise karena memang nyaris tiada yang baru di dunia ini; tapi bila formulanya bikin pembaca terpana, berharaplah bahwa ia bakal sukses jadi cerita.

Kunci dari ramuan itu, menurut Harriet Smart, terletak pada pertanyaan: ”Bagaimana seandainya.” Misal dalam film Notting Hill: ”Bagaimana seandainya bintang Hollywood jatuh cinta pada pemilik toko buku bekas?”

Ketika Cinta Tak Mau Pergi, novel debut Nadhira Khalid melahirkan pertanyaan: Bagaimana seandainya seorang pemuda miskin jatuh cinta pada seorang gadis paling cantik dan kaya dari desa sebelah yang secara turun-temurun bermusuhan dengan desanya?

Boleh jadi pembaca langsung terbayang ”Romeo & Juliet” atau ”San Pek-Eng Tay”. Situasinya klise sekali. Tapi, Nadhira mengolah dengan lebih kompleks; alih-alih melahirkan tragedi percintaan semata, dia menghadirkan konflik kelas, pertarungan sosial, dan persoalan ekonomi-politik yang ruwet. Dengan setting di Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara, Wawan Eko Yulianto menyatakan novel ini ”mengintip lebih jauh pada masyarakat Sasak”. … continue reading this entry.

Book Review: Auster’s imagines a new civil war

By MICHAEL HILL, Associated Press Writer Mon Aug 11, 3:50 PM ET

Man in the Dark” (Henry Holt, 192 pages, $23), By Paul Auster: An old man lies alone in the dark each night, hobbled by an auto accident and haunted by death. To fill the sleepless hours, he thinks up a story about a man who wakes up into an alternate America — one where there was no Sept. 11 and no Iraq War, but one where the controversial 2000 presidential election sparked a kind of blue-state/red-state civil war that has claimed millions of lives.

Auster’s latest novel toggles between these two tales — one ruminative, the other fantastic. Both relate to retired book critic August Brill, who is recuperating from a car wreck at his daughter’s home in Vermont. Brill has lost his wife to cancer and is also disturbed by the horrific death of his granddaughter’s former boyfriend. Brill and his granddaughter, who is also recovering at her mother’s house, keep the awful thoughts at bay by watching great films on TV all day. … continue reading this entry.